Ia menambahkan, masyarakat Jambula meminta Gubernur Sherly Tjoanda hadir langsung untuk menegosiasikan solusi, termasuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bentuk kerja sama untuk kesejahteraan nelayan dan ketahanan wilayah pesisir.
Ancaman Boikot Aktivitas dan Permintaan Maaf
Sebagai bentuk tekanan, Gunawan menyatakan warga siap menutup seluruh aktivitas di Jambula, termasuk Pertamina dan perkantoran seperti Rutan dan Lapas Rumbasan, sampai aspirasi masyarakat terpenuhi.
“Kami meminta maaf kepada masyarakat Kota Ternate atas gangguan ini. Namun aksi ini adalah bentuk protes terhadap pemerintah yang belum menindaklanjuti aspirasi kami,” tutup Gunawan.
Aksi ini menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap wilayah pesisir dan sektor perikanan, serta menunjukkan ketegangan yang muncul akibat minimnya realisasi pembangunan infrastruktur strategis di Maluku Utara. (red)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com











