Aku kembali ke mejaku. Tonang sedang menghabiskan Soklat Napoleonnya. Aku tersenyum saat melihat sisa parutan keju yang gagal meleleh menempel di bibirnya. “Berkacalah, lihat keju yang menempel itu. Pelajaran buatmu untuk meminum Soklat Napoleon sebelum dingin,” ujarku seraya mengulurkan tisu.
“Minuman yang kau pesan, apa istimewanya?”
“Lemon madu jahe dan pandan disajikan hangat-hangat selalu jadi andalan ibuku saat aku menangis menanyakan Bapak. Kamu tahu, tak mudah hidup hanya bersama Ibu. Ada saja yang menyebutku anak haram karena tak punya Bapak. Tadinya kukira karena aku makan babi lho.”
Tonang terkekeh. Kurasa ia menertawakan bagian babi.
“Ibuku bernama Lastri, usianya enam puluh lima tahun Natal ini. Itulah mengapa aku selalu pulang saat Natal. Merayakan kelahiran Ibu, pahlawanku, pelindungku di dunia. Waktu mancakrida kelas dua SMA, aku berkenalan dengan kakak pemberi materi yang kini jadi bosku di LSM Kusuma. Dialah yang menyadarkanku bahwa perempuan tercipta begitu kuat. Kami ini tanpa pria pun bisa hidup gemilang. Sori ya, bukan merendahkan kaummu. Cuma cerita aja.”
“Iya, aku paham, nggak usah ngode, aku nggak akan ngajak kamu nikah, nggak akan mengikatmu dengan cara apapun, Sasmita.”









