“Eh, kupesankan minum ya, kulihat ada di buku menu kafe ini, tak pernah kupesan karena aku biasa membuat sendiri di kos. Kusebut sebagai minuman pelipur lara. Malam ini masih panjang. Nanti, setelah kita minum segelas minuman pelipur lara, tolong antarkan aku pulang ke kos.”
Tanpa menunggu persetujuannya aku lekas berjalan ke meja kasir kafe. Sepasang anak muda berangkulan mesra di depanku, membuatku merasa tak nyaman. Kualihkan pandangan ke sisi kanan, kujumpai pemandangan serupa. Seorang pria berbaju kotak-kotak biru sedang menyentuhkan jarinya ke hidung kekasihnya, perempuan berkaos biru yang sangat mancung. Kulihat mereka terkikik seperti sedang membahas hal terlucu di dunia. Pipi kekasihnya yang sudah merona karena pemulas pipi menjadi semakin merah sesudahnya. Ah, sebentar lagi mungkin wajahnya akan berwarna seperti kepiting rebus.
“Kak, silakan!”
Suara Mbak Kasir mengejutkaanku yang tengah terpaku ke arah meja di sebelah kananku. “Duh, maaf ya, Mbak saya bengong lihat orang pacaran. He he he…Saya mau nambah pesanan, Kalem Aja,” ujarku sambil menunjuk di buku menu pada minuman “Kalem Aja (Kencur Asem Lemon Madu Jahe + Pandan) 15k”.
“Baik. Berapa, Kak?”
“Dua ya, untuk meja nomor tujuh,” ujarku sambil memberikan uang tiga puluh ribu.









