Pulang

oleh -582 views

Tak banyak yang ia ceritakan soal istrinya. Kurasa, ia tak ingin mengaduk lukanya sendiri. Berbeda denganku yang tak bosan bercerita tentang hidupku, tiap kali kami bertemu. “Menurutmu, apakah aku seorang yang narsis?”

“Mengapa bertanya begitu Sasmita? Mana ada seorang narsis yang berjuang seperti Ibu Kartini?”

“Kupikir, mungkin aku narsis dan terlalu berpusat pada diriku, namun cukup piawai bersandiwara dan membalut kenarsisanku dengan mengabdi pada LSM Kusuma. Mosok Ibu Kartini juga begitu?”

Ia pun mencoba meyakinkanku bahwa sejak pertemuan pertama kami di talkshow tentang peran perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, ia sudah memandangku bak srikandi pejuang emansipasi. Ia menyimpulkan sendiri.

Tawanya pecah saat kuceritakan ketidakberdayaanku pada segunung laporan kegiatan di akhir bulan yang harus kuperiksa. Seperti saat pertemuan perdana kami itu, aku harus menyelesaikan segunung laporan sesudah talkshow, maka kupesan kopi tubruk dan kuminum sampai ampasnya.

Baca Juga  Perkuat Ikatan Historis dengan Masyarakat, Ketua Golkar Maluku Salurkan Hewan Kurban di Tulehu

Hari ini aku memesan minuman yang sama dengan minuman yang disarankan Tonang untuk kupesan setelah ia melihatku meminum kopi hingga ampasnya turut serta kutelan. Hari ini aku butuh menenangkan diriku.

“Tonang, menurutmu apa yang membuatku suka menjumpaimu di sini dan bercakap tentangku, jika bukan karena narsisku?”

No More Posts Available.

No more pages to load.