Porostimur.com, Jakarta – Nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda kembali muncul dalam sorotan terkait bisnis pertambangan. Kali ini, namanya disebut dalam materi presentasi yang beredar dari forum internasional di Bangkok, Thailand, ketika isu pertambangan nikel, tata kelola bisnis dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan menjadi pembahasan.
Materi yang beredar di media sosial menampilkan sebuah daftar bertajuk “The Richest Governors: Nickel Money”. Nama Sherly ditempatkan di posisi teratas dengan angka kekayaan Rp709 miliar.
Angka tersebut menjadi perhatian karena muncul bersamaan dengan materi yang membahas industri nikel dan persoalan dampaknya di sejumlah daerah penghasil tambang.
Forum yang dimaksud adalah UN Responsible Business and Human Rights Forum 2026, yang berlangsung pada 14-17 September 2026 di United Nations Conference Centre, Bangkok. Forum resmi tersebut memang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, pekerja, komunitas terdampak dan pemangku kepentingan lain untuk membahas bisnis yang bertanggung jawab, akuntabilitas, hak asasi manusia serta rantai pasok.
Dalam konteks itulah, kemunculan nama Sherly menjadi menarik. Sebab, jauh sebelum materi Bangkok beredar, jaringan bisnis keluarga Laos-Tjoanda di sektor sumber daya alam Maluku Utara telah menjadi perhatian organisasi masyarakat sipil, terutama Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).









