Purbaya Pergi, Siapa yang Bisa Mengerem “Ruda Pungo” Fiskal Kita?

oleh -144 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Beberapa hari kemudian, menebak-nebak isi dapur Istana rasanya tidak terlalu produktif lagi. Ada pertanyaan yang lebih penting. Setelah Purbaya diganti, apa sebenarnya yang berubah?

Orangnya jelas berubah. Nada yang keluar dari Kementerian Keuangan juga mungkin berubah. Tetapi bagaimana dengan mesinnya?

Pemerintahan Prabowo sedang membawa daftar pekerjaan yang panjang dan mahal. Ada makan bergizi gratis, subsidi energi, pertahanan, infrastruktur, berbagai lembaga baru, Danantara, dan di atas semuanya ada ambisi membawa pertumbuhan ekonomi menuju delapan persen.

Tidak ada yang aneh dengan pemerintah mempunyai ambisi. Pemerintah tanpa ambisi barangkali lebih baik membuka kantor notaris.

Masalahnya, ambisi mempunyai kebiasaan buruk: semuanya minta dibayar.

Anak-anak memang perlu gizi. Infrastruktur harus dibangun. Pertahanan tidak boleh diabaikan. Industri perlu tumbuh. Orang miskin harus dilindungi. Ketahanan energi juga penting. Jika diperiksa satu per satu, hampir semuanya dapat memperoleh tanda centang.

Baca Juga  PLN Sofifi Bantu Pengemudi Bentor, Ganti Oli Gratis dan Bagikan Beras

Kesulitan dimulai ketika seluruh tanda centang itu datang ke kasir pada waktu bersamaan.

Penerimaan negara tidak otomatis melonjak karena daftar program bertambah. Produktivitas tidak meningkat hanya karena target diumumkan. Kapasitas birokrasi pun mempunyai batas. Pada titik tertentu pemerintah harus melakukan sesuatu yang jauh kurang menyenangkan daripada mengumumkan program baru: memilih.

No More Posts Available.

No more pages to load.