Purbaya Pergi, Siapa yang Bisa Mengerem “Ruda Pungo” Fiskal Kita?

oleh -144 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Di sinilah saya teringat Anthony Giddens. Sosiolog Inggris itu pernah memakai istilah juggernaut untuk menggambarkan modernitas sebagai kendaraan raksasa buatan manusia yang, setelah memperoleh kecepatan, semakin sulit diarahkan.

Saya memahami metafora Giddens itu dengan cara yang lebih kampungan.

Di kilang-kilang padi tua dahulu ada roda besar yang dalam percakapan orang Aceh kadang disebut “ruda pungo” – roda gila. Mula-mula mesin memutarnya perlahan. Setelah putarannya penuh, roda itu menyimpan tenaga dan menggerakkan huller, mesin penggilingan padi. Suaranya memenuhi bangunan. Lantai ikut bergetar.

Orang yang menjaga mesin boleh berganti. “Ruda” yang telanjur berputar tidak serta-merta ikut berhenti.

APBN kita mulai mengingatkan saya pada roda itu.

Baca Juga  Dramatis! Real Madrid Comeback 3-2 atas AEK, Federico Valverde Jadi Penentu Kemenangan

Uang Jangan Tidur

Purbaya datang dengan keyakinan yang besar bahwa ekonomi Indonesia masih dapat dipacu lebih cepat. Salah satu eksperimen yang paling mencerminkan keyakinan tersebut adalah penempatan dana pemerintah dalam jumlah sangat besar di bank-bank milik negara. Sebanyak Rp200 triliun dana SAL diperpanjang penempatannya dengan harapan likuiditas yang lebih longgar akan mengalir menjadi kredit, investasi, konsumsi, lalu pertumbuhan.

Sekilas logikanya menarik. Uang pemerintah jangan tidur. Masukkan ke bank. Bank punya lebih banyak uang untuk dipinjamkan. Pengusaha meminjam. Pabrik bekerja. Orang memperoleh pekerjaan. Ekonomi bergerak.

No More Posts Available.

No more pages to load.