Purbaya Pergi, Siapa yang Bisa Mengerem “Ruda Pungo” Fiskal Kita?

oleh -144 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Kalau ekonomi bekerja selurus itu, pekerjaan Menteri Keuangan tentu jauh lebih menyenangkan.

Masalahnya, bank tidak dapat memaksa pengusaha meminjam.

Seorang pengusaha akan menambah utang jika ia melihat pesanan bertambah, konsumen membeli, dan investasi baru mempunyai peluang menghasilkan keuntungan. Kalau yang kurang justru keyakinan untuk berekspansi, menambah uang di bank tidak otomatis menambah orang yang mengetuk pintu meminta kredit.

Dengan kata lain, uang bisa tersedia. Niat meminjam belum tentu ikut tersedia.

Di situlah eksperimen likuiditas Purbaya layak diperiksa lebih dingin daripada cara kebijakan itu pertama kali diperkenalkan. Persoalannya bukan apakah idenya berani. Persoalannya adalah apakah tambahan likuiditas benar-benar sampai ke tujuan yang dijanjikan dan menghasilkan kegiatan ekonomi baru yang sebanding.

Baca Juga  Menunggu Nyali Politik Prabowo

Perjalanan dana itu kemudian juga memperlihatkan bahwa hubungan kebijakan fiskal dengan pengelolaan likuiditas dan kebijakan moneter Bank Indonesia tidak sesederhana memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain.

Pasar tampaknya juga tidak terlalu terpesona oleh keberanian semata.

Memang tidak masuk akal menimpakan seluruh kegelisahan ekonomi selama periode tersebut kepada Purbaya. Rupiah menghadapi tekanan, sementara Fitch dan Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Persoalan yang diperhatikan investor jauh lebih besar daripada seorang menteri: arah kebijakan, tekanan fiskal, kekuatan penerimaan negara, serta berbagai kewajiban yang dapat tumbuh di sekitar neraca pemerintah.

No More Posts Available.

No more pages to load.