Purbaya

oleh -19 views
Smith Alhadar

Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Dalam sejarah para pembesar kerajaan-kerajaan di Nusantara, nyaris seluruhnya dilahirkan dari cerita ajaib. Mereka tak boleh datang dari rakyat kebanyakan yang lahir dari proses alami. Kharisma atau kekuatan transendental diperlukan pembesar untuk mendapat legitimasi, ditakuti, dan ditaati  karena “king can do no wrong”.  Dan masyarakat menyukainya. Malah, rakyat mendramatisir “keajaiban” itu dan mengkuduskannya.

Salah satu cerita ajaib itu membungkus Pangeran Purbaya dari Mataram. Nama asilnya Jaka Umbaran, putra Panembahan Senopati dari istri anak perempuan Ki Ageng Giring. Babad Tanah Jawi mengisahkan, Giring menemukan kelapa muda ajaib yang jika airnya diminum hingga ludes dalam sekali teguk, maka si peminum dapat melahirkan raja-raja tanah Jawa. Tanpa sengaja air kelapa muda itu terminum habis oleh Ki Ageng Pamanahan yang bertamu ke rumah Giring.

Baca Juga  Dubes Swiss Kunjungi Maluku, Gubernur Lewerissa Bidik Kerjasama Pelatihan Vokasi dan Energi Terbarukan

Karena Pamanahan merasa bersalah setelah mengetahui khasiat air kelapa ajaib itu, ia nikahkan putranya, Sutawijaya, dengan anak perempuan Giring. Tak disangka, Sutawijaya meninggalkan istrinya yang sedang hamil lantaran wajahnya jelek. Putra Sutawijaya ini diberi nama Jaka Umbaran, artinya “Yang Ditelantarkan.”  Ketika dewasa Umbaran alias Purbaya menemui ayahnya, yang kini bergelar Penambahan Senopati.

No More Posts Available.

No more pages to load.