Realistis Dalam Menyikapi Keterbelakangan di Maluku

oleh -125 views
Link Banner

Oleh: Julius R. Latumaerissa, Akademisi dan Pemerhati Maluku

Keterbelakangan dan ketidakadilan yang kita rasakan sampai saat ini di Maluku, adalah fakta pembanguan yang nyata. Menyikapi kondisi seperti ini harus tetap bijak dan rasional, bukan emosional.

Kita semua sadari sungguh akan disparitas dan inequility di Maluku. Dari dulu sebelum era reformasi kondisi ini sudah terbentuk, dan diperparah lagi di era reformasi, dengan berbagai regulasi pempus yang tidak berpihak kepada Maluku.

Disparitas, inequility dan distorsi ekonomi sosial dan politik di Maluku sampai saat ini, jika kita mau jujur 80% adalah kegagalan pemerintah daerah baik provinsi, maupun kabupaten/kota dalam memberikan rasa keadilan, kesetaraan dan sempitnya gap pembangunan antara daerah dan antar kelompok masyarakat.

Link Banner

Kita harus clear di titik ini dulu baru kita bersikap kepada pempus. Jangan kita menutupi kegagalan internal dengan mengkambing hitamkan pempus. Pempus punya andil tapi saham terbesar dalam keterbelakangan Maluku juga dari stakeholders Maluku sendiri. Jujurlah untuk bicara dan bijak dalam bersikap.

Baca Juga  DPRD Ambon Respon Penutupan Akses Jalan Oleh Warga Gadihu

Terlepas daripada adanya ketidak adilan pembagian kue nasional, tapi harus diakui juga bahwa triliunan rupiah setiap tahun juga mengalir ke Maluku. Pertanyaannya kemana dana dana itu untuk pembangunan?

Kepemimpinan daerah saat ini kalau dibilang gagal dalam menghadirkan keadilan dan kesetaraan pembangunan juga iya tapi bagaimana dengan kepemimpinan daerah baik provinsi dan kabupaten/kota dua tiga dekade sebelumnya? Mereka juga gagal lalu akumulasi kegagalan itu harus kita buang kepada pihak ketiga? Ini satu kesalahan besar dalam menyikapi problematika Maluku selama tiga sampai empat dekade belakangan ini.

Masyarakat Maluku harus diberi edukasi yang objektif dan konstruktif, bukan emosional, destruktif. Kalau masyarakat Maluku semua dibangun cara berpikir destruktif, konfrontatif justru tidak menguntungkan posisi Maluku dalam upaya mendapatkan keadilan negara dalam perspektif apa pun.

Baca Juga  YLBH-RKS Gelar Penyuluhan Hukum di Desa Kou

Yang saya pikir lebih baik kita membenahi secara internal melalui bangun sistim politik lokal Maluku yang lebih mengedepankan kemaslahatan masyarakat Maluku, dengan metodologi yang lebih tepat namun bermata jamak, dengan kata lain satu strategi tunggal sapi memiliki daya ledak besar, itu jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan pola pola destruktif konfrontatif.

Sudah banyak pemikiran dan gagasan anak Maluku yang dipublikasikan dan semuanya tidak ada yang salah, namun dalam ribuan konsep berpikir itu kita jangan lupa mengkaji lebih dalam tentang kemurnian gagasan yang disampaikan.

Masyarakat Maluku diharapkan mampu untuk menyerap berbagai gagasan yang pro rakyat, karena depan dan belakang belum tentu sama. Dan ini yang harus disikapi dengan sangat hati hati dan kritis.

Dalam perspektif pandang yang sulit untuk dibuktikan tetapi ada. Kita masyarakat harus dapat memahami bahwa disetiap gagasan brilian yang harus dicermati dan dihindari adalah gagasan yang kritis rasional atas nama rakyat, atas nama keadilan bagi rakyat, tapi dibelakangnya ada pesan sponsor juga.

Baca Juga  Maluku Miskin Karena Memang Miskin

Dunia persilatan pembangunan di Maluku ini susah dipahami dengan lensa kaca mata biasa, tetapi kalau kita baca dengan lensa microskop maka kita bisa melihat bahwa virus-virus dan bakteri-bakteri yg merusak organ pembangunan Maluku sangat banyak dengan berbagai varian yg ada.

Dalam lensa kacamata biasa kita langsung dapat membedakan mana manusia dan mana hewan, tapi dalam lensa microskop yang kelihatan manusia tapi berkepala hewan, dan berhati da’jal.

Jadi mari kita sikapi semua kondisi yang ada dengan mata yang jernih, dan akal sehat yang benar-benar sehat. Penalaran yang panjang dan dapat di pertanggung jawabkan secara tepat dan objektif. (*)