Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Di Timur Tengah hari-hari ini, satu mitos lama mulai retak: mitos tentang supremasi udara Barat yang selama puluhan tahun dianggap tak tersentuh.
Sejak Perang Teluk 1991, dunia hidup di bawah keyakinan yang hampir tak pernah dipertanyakan.
Amerika Serikat dan sekutunya dipercaya memiliki kekuatan udara yang tidak tertandingi.
Armada pesawat tempur generasi terbaru, satelit militer, sistem radar canggih, hingga jaringan pertahanan udara berlapis-lapis telah menjadikan langit seolah wilayah yang hanya boleh dimasuki oleh satu kekuatan.
Dari Irak hingga Afghanistan, dari Balkan hingga Suriah, pola yang sama selalu berulang: siapa yang menguasai langit, dialah yang menentukan nasib perang.
Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar setia pada mitos yang terlalu lama dipelihara.
Konflik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat-Israel versus Iran mulai memperlihatkan sesuatu yang selama ini dianggap mustahil: bahwa dominasi udara yang begitu lama diagungkan ternyata memiliki titik rapuh.
Gelombang serangan drone, rudal balistik presisi, dan teknologi hipersonik—yang oleh sejumlah analis militer, termasuk Agung Sasongkojati, disebut sebagai bentuk perang asimetris generasi baru—menunjukkan satu kenyataan sederhana: langit tidak lagi sepenuhnya bisa dikendalikan oleh teknologi mahal.









