Oleh: Dr. Dhimam Abror Djuraid, M.Si., Ketua Jarnas Anies Jawa Timur, Akademisi dan Wartawan Senior
Rocky Gerung diburu oleh banyak orang karena pernyataannya yang menyebut Jokowi sebagai bajingan tolol dan pengecut. Bagi banyak orang—terutama relawan Jokowi—ungkapan itu bukan sekadar offside, tapi sudah melewati garis batas permainan.
Gerakan memburu Rocky bermunculan dimana-mana. Rocky menjadi sasaran kemarahan dan menjadi target ‘’witch hunt’’ perburuan tukang tenung. Sebuah video yang beredar menunjukkan sekelompok orang menyembelih seekor kambing bertuliskan ‘’Rocky Gerung’’. Seseorang menghunus pedang, menggorok leher kambing, kemudian menadahi darahnya dengan gelas dan kemudian meminumnya sambil meneriakkan ancaman terhadap Rocky Gerung.
Pemburu lainnya, Benny Ramdhani, melaporkan Rocky ke polisi dan mengatakan akan menggerakkan banyak orang untuk memburu Rocky pada 10 Agustus. Tanggal itu dipilih mungkin karena berbarengan dengan rencana para buruh melakukan demonstrasi menolak UU Ciptaker Omnibus Law. PDIP sebagai partai pengusung Jokowi juga sudah melapor ke polisi. Bahkan, pelapor lain meminta agar Rocky dilarang bicara seumur hidup.
Di tengah gencarnya perburuan tukang tenung itu muncul beberapa pembelaan. Fahri Hamzah menyebut sudah risiko jabatan bagi seorang presiden mendengar kritik dan serangan masyarakat. Bahkan sekalipun dimaki-maki. Presiden itu pekerjaan hari-harinya harus dikritik. Karenanya ia tak setuju undang-undang digunakan untuk menjerat orang yang mengkritik. Bagi dia, kritik mestinya dibiarkan dan didengarkan.









