Kala itu diduga ia tengah sakit malaria di rumahnya di Santiong, Kota Ternate. Eureka! Saat itu juga Wallace berkonklusi. Superior (sehat) akan menang, sedangkan inferior (sakit) akan kalah. “Survival of The Fittest”. Semuanya itu diceritakan Profesor Sangkot dengan jelas dan lancar. Sangat menarik!
Nah, pada ending artikelnya, saya agak terperanjat. Begini ringkasan tulisan Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu, “Sayangnya, di Indonesia pun Wallace masih terlupakan. Di Sarawak, tempat kerjanya terurus rapi. Di Ternate, tempat teori akbar mengenai evolusi lahir, sama sekali bersih dari tanda-tanda yang mengingatkan adanya penemuan paling besar pada abad ke -19 itu. Sayang sekali”. Ketua Dewan Pengurus Yayasan Wallacea Indonesia ini mengakhiri tulisannya dengan nada kecewa.
Telinga saya memerah bercampur rasa sedih, setelah membaca ulasan di atas. Saya lantas ceritakan pada Muhdi Aziz, teman saya, soal ulasan itu. Kontan dia menjawab, Wallace itu adalah “tetangganya”, dengan nada canda. Wallace sendiri pertama kali injakkan kaki di Bumi Para Sultan ini, Kamis pagi, 8 Januari 1858. Uniknya, hari itu usianya tepat 35 tahun.
Belakangan baru saya yakin dengan candaan Muhdi Aziz itu. 3 Desember 2008, Kepala LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Prof. Umar Anggara Jenie, Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki, Wali Kota Ternate Drs. Syamsir Andili – serta disaksikan sejumlah ilmuwan dan warga sekitar – melakukan peletakan batu pertama pembangunan monumen Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Kota Ternate.









