Rumah Wallace di Santiong?

oleh -25 views
Alwi Hadar

Oleh: Alwi Sagaf Alhadar, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku Utara

Mulanya saya tidak terlalu peduli dengan Wallace. Mungkin bukan hanya saya saja – yang tak miliki basis pengetahuan tentang mahluk hidup. Bisa jadi banyak kalangan praktisi biologi di Indonesia seperti saya. Mungkin pula mereka hanya terpaku pada satu nama saja. Charles Darwin. Terkenal sebagai pencetus teori evolusi.

Saya tahu Wallace itu penemu garis Wallacea (Wallace Line), yang memisahkan wilayah biogeografi hewan Asia dan Australia. Saat belajar mata pelajaran ilmu bumi di bangku SD. Hanya itu saja.

Namun kepedulian ini muncul setelah saya membaca artikelnya Profesor Sangkot Marzuki, di Majalah TEMPO, edisi 19 Mei 2008. Judulnya singkat dan sederhana. “Surat dari Ternate”. Profesor Sangkot menulis dengan lugas diimbangi gaya bahasa bertutur. Proses karir keilmuan Alfred Russel Wallace, hingga ia “temukan teori evolusi” di Ternate. Teori itu termaktub jelas dalam makalahnya berjudul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type”.

Point dari makalah itu, yakni munculnya variasi yang berbeda dengan spesis asli akibat proses adaptasi terhadap lingkungan yang berubah. “Surat dari Ternate” ini kemudian dikirim ke koleganya, Charles Darwin di London, Inggris. Setibanya dokumen penting dalam “The Letter from Ternate” ini, lalu dibedah di hadapan Linnean Society London yang bergengsi dan kredibel.

No More Posts Available.

No more pages to load.