Terakhir, untuk menjaga lalu lintas udara, Rusia harus menarik sebagian besar pesawatnya dari peredaran untuk mendapatkan suku cadang yang diperlukan agar pesawat lainnya dapat terbang. Selain itu, Rusia juga kehilangan akses ke pasar keuangan, tidak lagi terhubung ke jaringan penelitian global utama, dan kehilangan tenaga kerja terampil dan berkualitas secara besar-besaran.
Adapun alternatif yang ditawarkan China untuk ekonomi Rusia, pada kenyataannya masih terbatas, terutama untuk produk-produk berteknologi tinggi. Pemerintah China, yang sangat bergantung pada ekspornya ke negara maju, sejauh ini tidak membantu Rusia menghindari sanksi Barat. Ekspor China ke Rusia menurun, sama seperti menurunnya ekspor negara-negara Barat.
Akankah dampak signifikan dan yang terus berkembang ini akan membuat Vladimir Putin mengubah perhitungan strategisnya? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tindakannya tidak dipandu hanya oleh logika ekonomi. Namun, dengan memaksanya untuk memilih antara ‘mentega atau senjata’ (kepentingan sosial atau berperang), setidaknya sanksi-sanksi tersebut semakin mempersulitnya.
Mengenai dampak sanksi terhadap negara-negara lain, khususnya negara-negara Afrika yang bergantung pada gandum dan pupuk Rusia dan Ukraina, di sini jelas siapa yang bertanggung jawab atas krisis pangan. Sanksi Uni Eropa sama sekali tidak menargetkan ekspor gandum atau pupuk Rusia.








