“Bagaimana kalau kita sembelih saja unta itu?” ucap sahabat tersebut sembari menunjuk unta yang berada di bawah pohon kurma di depan masjid.
“Ide bagus. Tapi, kalau ketahuan siapa yang akan bayar?” tanya Nu’aiman dengan nada santai.
“Urusan gampang. Kan ada Rasulullah. Pasti beres,” jawab sahabat itu meyakinkan.
“Rasulullah adalah garansi dan solusi segala musim. Ada Rasulullah, segala urusan beres,” pikir Nu’aiman.
Mereka akhirnya sepakat menyembelih unta tersebut. Nu’aiman kemudian mencari golok dan menyembelih unta itu sebelum sang pemilik keluar dari masjid.
Ketika melihat untanya telah disembelih, Badui tersebut langsung berteriak meminta pertanggungjawaban.
“Untaku, Muhammad. Untaku disembelih lelaki keparat itu!” teriak Badui tersebut.
Rasulullah SAW segera menghampiri sumber keributan dan menanyakan siapa yang melakukan perbuatan tersebut. Para sahabat pun serempak menyebut nama Nu’aiman.
Rasulullah SAW kemudian mencari Nu’aiman yang ternyata bersembunyi di rumah Ziba’ah binti Zubair. Ia bersembunyi di sebuah ruangan kosong sambil menutupi tubuhnya dengan daun kurma.
Setelah ditemukan, Rasulullah SAW menanyakan alasan Nu’aiman menyembelih unta milik tamu tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu menyembelih unta si Badui itu?” tanya Rasulullah dengan serius.









