Sebuah Impian

oleh -447 views

Seiring waktu, dia merasa bahwa biaya hidup di sana semakin mahal. Uang yang dimilikinya kini hanya cukup untuk makan saja. Belum lagi untuk membeli buku-buku kedokteran yang harganya tak murah. Namun dia tak mau meminta tambahan uang bulanan karena dia takut membebani orangtuanya. Alhasil ia memutuskan untuk kerja part time di sebuah coffee shop guna mencukupi kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika, ayah Arda merasa sangat merindukan putri pertamanya. Dia memutuskan untuk terbang ke Univesitas Indonesia sekaligus memberikan kejutan untuk ulang tahun Arda yang ke 20 tahun.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, dia memutuskan untuk rehat sejenak serambi meneguk coffee. Dia mendekati puluhan pembeli yang mengantri di sebuah coffee minimalis pada seberang jalan. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui putrinyalah yang sedang melayani para pembeli itu. Dengan mata sebam dia tetap ikut mengantri.

Baca Juga  Ternate, Sultan Muhammad Jabir Syah dan Federalisme yang Terlupakan

“Mau rasa apa pak?” tanya Arda.
“Cappucino saja.” jawab ayah Arda sambil menurunkan topi yang dipakainya.
“Baik, tunggu sebentar ya,” ujar Arda.

Beberapa saat kemudian,
“Ini pak coffeenya,” ujar Arda sambil memberikan satu cup coffee itu.
“Terimakasih Arda,” kata ayah Arda.
Arda terdiam sejenak serambi memikirkan mengapa pembeli itu tau namanya. Seketika dia menangis ketika melihat lelaki bertopi itu adalah ayahnya. Dengan segera dia memeluk lelaki itu dan menceritakan segalanya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.