Sejarah Jalur Rempah di Indonesia, Pengaruh Angin Monsun

oleh -25 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Sejak masa pra-kolonial, Nusantara diyakini sudah memiliki peranan penting dalam jalur rempah.

Rempah asal kepulauan Nusantara menjadi komoditas dagang penting saat itu. Konon pedagang eropa datang ke Nusantara untuk mencari rempah.

Menurut Prof. Dr. Iwan Pranoto dari Fakultas Matematika dan Ilmu Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB), jalur rempah berkaitan pada penyebaran ilmu pengetahuan.

Hal itu ia sampaikan dalam webinar International Forum on Spice Route 2020 sesi Redefining the Spice Route through Socio-cultural Interconnectivity, Senin (21/9/2020).

Link Banner

“Yang kita sudah tahu bahkan rempah atau sutera atau bahan-bahan lainnya itu menjadi komoditas dagang saat itu. Tetapi sebenarnya ada yang lebih mendasar yaitu pengetahuan,” kata Iwan.

“Pertanyaannya adalah, apa yang memungkinkan terjadi sirkulasi pengembangan dan perputaran ilmu pengetahuan ini,” sambung dia.

Ilustrasi nenek moyang pelaut berlayar mengarungi lautan, memanfaatkan angin monsun untuk berlayar dari sub-benua India ke negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu jalur rempah yang dimanfaatkan dalam sejarah perdagangan rempah dunia.

Ilustrasi nenek moyang pelaut berlayar mengarungi lautan, memanfaatkan angin monsun untuk berlayar dari sub-benua India ke negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu jalur rempah yang dimanfaatkan dalam sejarah perdagangan rempah dunia.

Angin monsun

Pada abad 16, dunia tak seperti sekarang ini. Dahulu pembagian daerah bukan berdasarkan benua yang menunjukkan arah mata angin.

Baca Juga  Mapala UMMU dan SARMMI Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Ambon

Salah satu penamaan daerah di dunia, menurut Iwan, adalah India Intra Gangem dan India Extra Gangem. Penamaan itu menunjukkan India di dalam area Sungai Gangga dan India di luar Sungai Gangga.

Angin monsun mendominasi iklim yang ada di kawasan tersebut. Angin ini berperan menjadi mesin penggerak, pertukaran, pengembangan, dan perputaran pengetahuan.

“(Disebut) Pertukaran karena bukan satu arah. Kalau kita melihat (jalur) rempah atau sutera, kita seperti melihat hanya satu arah. Dari timur ke barat. Tetapi kita tidak pernah melihat bahwa dari barat ke timur juga ada. Salah satu yang memungkinkan itu adalah angin monsun,” jelas Iwan.

Angin monsun memegang peranan besar dalam pertukaran ilmu pengetahuan termasuk rempah.

Baca Juga  Sidak di RSUD Sanana, DPRD Kepulauan Sula Temui Beragam Persoalan

Kala itu para pelaut di India dan daerah sekitarnya termasuk Nusantara, memanfaatkan angin monsun untuk berlayar.

Biasanya para pelaut Nusantara memanfaatkan angin monsun pada Juni-September untuk bisa berlayar ke arah utara alias India dan sekitarnya.

“Tetapi setelah bulan Oktober-November itu anginnya berbalik arah. Jadi yang tadinya tekanannya besar di lautan India, itu akan berbalik dan tekanannya besar di Pegunungan Himalaya dan itu menciptakan angin ke arah sebaliknya (Nusantara),” papar Iwan.

Angin monsun inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para petualang dari India dan China untuk menuju ke timur atau kepulauan Nusantara.

Berkat langkah perjalanan tersebut terjadilah pertukaran kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk transaksi yang melibatkan rempah.

Pertukaran pengetahuan

Selain pertukaran rempah, angin monsun juga berperan penting pada pertukaran ilmu pengetahuan. Salah satunya tentang bilangan.

Baca Juga  Siapkan Masker Bagi Warga, Pemkot Berdayakan Penjahit se-Kota Ambon

Ia menuturkan, bentuk bilangan yang kita kenal sekarang ini bisa ditemukan baik di Asia Tenggara, Kamboja, dan India. Bentuk bilangan di Indonesia ditemukan pada prasasti di Jambi.

Bahkan ilmu di Asia Tenggara bisa dianggap lebih tua daripada di India.

“Bukan sekadar menyerap, tapi nenek moyang kita ini juga mengembangkan. Asia Tenggara selalu digambarkan seperti tempat pembuangan budaya dari India. Ternyata bukan seperti itu.”

Asia Tenggara bukan hanya mempelajari budaya dari wilayah India, melainkan juga mengembangkan menjadi lebih maju. Termasuk di ranah keagamaan dan kuliner.

“Kuliner kita banyak dipengaruhi oleh China dan India. Tapi kita mengembangkan sendiri menjadi rendang atau kari,” pungkasnya. (red/kcm)