Kisah “sekerat daging dan anjing” itu dinukil oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang ulama dan pemikir Islam yang banyak berbicara tentang watak manusia, hawa nafsu, dan bagaimana seseorang menjaga dirinya dari godaan yang dapat menjerumuskannya. Metafora itu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia mudah dibawa ke banyak keadaan dalam kehidupan.
Sebab, “sekerat daging” tidak selalu berbentuk makanan. Ia bisa berupa uang, kedudukan, kesempatan, pujian, atau keuntungan yang datang pada saat seseorang sedang lengah. Dan yang membuatnya menjadi godaan bukan semata-mata karena nilainya besar, melainkan karena ia berada begitu dekat dengan keinginan kita.
Di sinilah komitmen menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar janji. Janji mudah diucapkan ketika keadaan masih tenang. Komitmen baru memperoleh maknanya ketika seseorang berhadapan dengan pilihan yang tidak nyaman: mengambil apa yang menguntungkan dirinya atau tetap menjaga apa yang sejak awal dipercayakan kepadanya.
Mungkin karena itu, ukuran komitmen tidak selalu terlihat dalam perkara-perkara besar. Ia justru sering tersembunyi dalam keputusan kecil yang tidak diketahui siapa-siapa. Ada saat ketika seseorang bisa mengambil, tetapi memilih tidak mengambil. Ada kesempatan untuk berbelok, tetapi ia tetap berada di jalan yang telah dipilihnya. Bukan karena tidak memiliki keinginan, melainkan karena ia tahu ada sesuatu yang nilainya lebih tinggi daripada kenikmatan sesaat.











