“Saya juga telah dijanjikan pemerintah untuk pengobatan tapi sampai saat ini kami tidak diperhatikan dengan sempurna sesuai dengan janji pemerintah. Saat ini, saya juga menunggu kepastian dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar tetapi saya belum menerima kepastian dan acc dari rumah sakit,” akunya.
Senada dengan Valeriana, Karina dalam video yang sama juga mengaku tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah usai dirinya menjadi korban bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021 lalu.
“Saya anak perantau, saya juga korban. Sekarang say mengalami keloid di bagian tangan kanan dan kaki kiri namun saya merasa terganggu karena sering gatal dan kesakitan,” ucap dia
Keduanya pun lalu meminta bantuan daru Uskup dan Pastor serta para dermawan untuk bersedia memberikan donasi kepada keduanya demi pengobatan bekas luka bakar yang mereka derita.
“Kami juga minta bantuan pastor uskup dan bapak ibu yang nonton video ini untuk bantu agar kulit kami bisa sembuh kembali,” katanya.
Klarifikasi Rumah Sakit Bhayangkara
Ilustrasi rumah sakit/Pixabay StockSnap
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Kombes Pol Muhammad Masudi membantah pengakuan kedua mahasiswi tersebut. Menurut dia, pihaknya telah memberikan perhatian khusus kepada keduanya pasca bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar.




