Oleh: Iwan Tarigan, Pengamat Ekonomi Politik
Ketegangan geopolitik antara Iran dan United States telah berlangsung hampir setengah abad. Sejak pecahnya Iranian Revolution, hubungan kedua negara berubah dari sekutu strategis menjadi rival yang saling berhadapan dalam berbagai arena—diplomasi, ekonomi, hingga militer.
Selama periode tersebut, Iran menghadapi tekanan luar biasa: sanksi ekonomi yang panjang, isolasi politik, hingga ancaman konfrontasi militer. Namun negara itu tidak runtuh. Bahkan dalam berbagai kesempatan, Iran tetap mampu mempertahankan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Bagaimana sebuah negara yang menghadapi tekanan besar dari kekuatan global seperti Amerika Serikat tetap mampu bertahan dalam jangka waktu yang begitu lama?
Salah satu jawabannya terletak pada karakter nasional yang kuat. Dalam sejarah politik modern Iran, memori kolektif mengenai kedaulatan negara memainkan peran penting. Salah satu peristiwa yang sering menjadi rujukan adalah penggulingan pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953. Peristiwa itu membentuk kesadaran politik di Iran tentang pentingnya menjaga kemandirian negara dari intervensi kekuatan asing.









