Merawat Damai, Merawat Kata
Di tanah-tanah yang pernah dilalui konflik, damai selalu datang perlahan. Ia tidak hadir dalam satu pidato atau satu kebijakan. Ia tumbuh dari hal-hal kecil: sapaan yang tulus, pengakuan yang jujur, dan kata-kata yang tidak melukai.
Karena itu, setiap kalimat yang keluar dari seorang pemimpin bukan sekadar bunyi. Ia adalah kemungkinan—untuk menyembuhkan, atau justru membuka kembali luka yang belum sempat mengering.
Sibenpopo–Banemo hari ini mungkin belum sepenuhnya pulih. Bara itu masih tersimpan di bawah abu yang tampak tenang. Dan di atas tanah seperti itu, kata-kata tidak boleh hanya benar—ia harus hangat.
Sebab pada akhirnya, yang dicari oleh mereka yang terluka bukan hanya keadilan atau kebenaran, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan sering kali lebih sulit diberikan: rasa bahwa mereka dimengerti. (**)









