Sirno Hilang Kertaning Bumi

oleh -11 Dilihat

(Mencermati Sirnanya Bangsa dan Reinkarnasi Bentuk Baru)

Oleh: Haris Rusly Moti, Aktivis Petisi 28

KELENGKAPAN peradaban sebuah bangsa persis seperti manusia juga. Setiap manusia, juga bangsa, pasti dilengkapi oleh raga maupun jiwa. Di dalam jiwa dan raganya lalu ditiupkanlah ruh yang suci untuk menghidupkannya.

Ruh yang suci itu tidak berwujud, tidak terikat ruang dan waktu, berdiri di luar ruang dan waktu. Ruh tidak ada bentuknya, juga tidak bisa dibentuk. Ruh tak mengenal kebangsaan, tak berjenis kelamin. Ruh juga tak akan mengalami korosi, berkarat. Oleh para ilmuan, ruh itu disebut sebagai “partikel Tuhan” yang menghidupkan setiap makhluk hidup.

Jiwa yang Berkarat

Berbeda dengan ruh, jiwa manusia dan jiwa bangsa dapat berubah, dapat berkarat, dapat dibentuk. Pada dasarnya jiwa manusia dibentuk oleh medan ekosistem tempatnya hidup. Demikian juga sebuah bangsa, ia juga mempunyai jiwa dan kepribadian yang dibentuk oleh medan ekosistemnya.

Baca Juga  Pengadaan Perlengkapan Siswa Rp5 Miliar Diusut Polisi, Kadis Pendidikan Halsel: Saya Siap Dipanggil

Baik jiwa manusia maupun jiwa bangsa, keduanya melewati proses pembentukan, yang tak pernah berakhir, sejak kelahirannya hingga musnah atau wafat. Sejarah dan pengalaman jatuh bangun, juga turut menempa, mengkonsolidasikan dan membentuk karakternya.

Karena itu, setiap manusia dan setiap bangsa mempunyai kapasitas karakter dan kepribadian yang berbeda satu dengan lainnya. Kapasitas jiwa atau karakter tersebut yang membedakan satu individu dan atau suatu bangsa dengan individu dan atau bangsa lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.