Snobisme atau Apa Arti Kemewahan

oleh -320 views

Snobisme itu tidak terjadi dalam mengejar kemewahan saja. Bahkan kedermawanan pun menjadi medan persaingan untuk menjadi snob. Anda tentu pernah mendengar orang-orang superkaya atau para pemengaruh (influencer) menyantuni kaum kere dan melarat bukan? Memang ada yang secara tulus memberi, namun banyak juga yang “memberi untuk dilihat,” sebuah ciri khas dari snobisme.

Baik, bagaimana menjelaskan mantu presiden yang baru melahirkan dan dihadiahi suaminya Omakase, masakan Jepang yang chef-nya langsung datang ke rumah bersalin itu?

Coba bayangkan saja begini. Anda berada di keluarga presiden. Hanya menjadi keluarga presiden saja, Anda sudah dikejar-kejar oleh uang. Semua menikmati. Anak pertama, dengan bantuan Om dan Bapak, jadi wapres. Anak kedua kawin dengan walikota — yang menjabat juga dengan pengaruh mertua. Anak bungsu jadi ketua partai hanya dua haris setelah jadi anggota partai itu. Sayangnya dia gagal jadi gubernur walaupun sudah diusahakan mati-matian.

Baca Juga  BEM Unkhair Kecam Pembubaran Nobar oleh TNI, Dinilai Langgar Supremasi Sipil

Itu anak-anaknya. Saya membayangkan berada di keluarga seperti itu. Antara si bapak yang punya kekuasaan, si ibu yang sangat berkuasa untuk urusan ke dalam keluarga, anak-anak, mantu-mantu, dan cucu-cucu.

Persaingan itu pasti terjadi dengan keras. Tentu mereka bersaing juga dengan orang-orang di luar keluarga. Namun itu bisa dikalahkan karena toh bapak masih sangat berkuasa. Nah persaingan itu bisa jadi sangat keras ke dalam.

No More Posts Available.

No more pages to load.