“Kenapa sutradara tidak datang bertanya langsung kepada uskup atau pastor-pastor yang ada di sana?” katanya.
Nilai Tidak Representatif
Uskup Mandagi mengaku prihatin dengan gambaran yang ditampilkan dalam film tersebut. Ia menilai narasi yang dibangun tidak mencerminkan kondisi dan peran gereja yang sebenarnya dalam mendampingi masyarakat Papua Selatan.
Menurutnya, pemilihan narasumber diduga telah diarahkan sehingga hanya menghadirkan pandangan yang sejalan dengan pembuat film.
“Yang diminta bicara hanya orang-orang yang sealiran dengan sutradara dan pemberi dana,” ujarnya.
Mandagi pun mengajak masyarakat untuk tetap kritis dan bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang disajikan melalui karya film, terutama yang menyangkut isu sensitif di Papua.
(red/beritasatu)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com











