Singkatnya strategi Firehose of Falsehood menempatkan seseorang menjadi sangat kontroversial, bisa dipersepsikan licik, rasis, atau stigma buruk lainnya. Tetapi, di saat bersamaan dia juga bisa meraup keuntungan elektoral dari warga yang secara diam-diam ataupun terbuka berada di pusaran arus kontroversinya, menikmati bahkan bisa saja akhirnya berharap perubahan justeru dilakukan oleh figur yang kerap dianggap bad guy seperti Trump di Amerika.
Strategi propaganda serupa yang kerap dimainkan di musim kompetisi elektoral adalah false flag operation. Propaganda ini modusnya dengan mengkambinghitamkan pihak lawan atas suatu kasus atau kejadian. Tujuan utamanya agar opini khalayak mempercayai apa yang telah mereka lakukan dan apa yang mereka katakan. Inilah jawaban mengapa jika ada suatu peristiwa mengemuka, masing-masing pihak sibuk membangun narasi kegaduhan yang sifatnya mencari kambing hitam siapa yang salah atau siapa yang bertanggungjawab.
Kedua kubu baik penantang maupun petahana kerap berjibaku melakukan teknik ini di setiap kesempatan jika ada peluang kesalahan di kubu lawan. Salah satunya dengan memanfaatkan prinsip bekerjanya Teori Agenda Setting, yakni jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media akan mempengaruhi isu tersebut dirangking sebagai isu penting oleh khalayak. Selain perangkingan isu di media massa, strategi lainnya adalah membanjiri informasi dan perbincangan di media sosial lewat pasukan siber (cyber army) yang mereka miliki.










