Para elit di ragam kesempatan memang lebih banyak membangun narasi kontroversial. Sebut saja contohnya penantang baru yang mendelegitimasi kinerja pemerintahan saat ini yang jauh dari cita-cita, visi dan program yang diusung pada pilkada sebelumnya. Begitu juga sebaliknya, kubu petahana pun menyerang dengan sindiran yang menohok di mana penantang dipersonifikasikan sebagai pendatang baru yang tidak memahami dan menguasai hal ikhwal permasalahan di daerah.
Dalam kajian komunikasi politik, pola dan pendekatan konstruksi narasi politik yang demikian lazim dikenal sebagai pendekatan propaganda ala Rusia (Russia’s approach) yakni Firehose of Falsehood.
Biasanya dalam praktik propaganda firehose of falsehood ini memiliki empat karakteristik utama. Pertama, memanfaatkan kontroversi untuk membanjiri kanal-kanal warga yang sehari-hari diakses mereka dengan narasi yang dikehendakinya. Kedua, narasi dikonstruksi cepat dan dan dibuat masif. Artinya pesan yang sama atau serupa bisa diulang-ulang secara terus menerus sehingga persepsi khalayak lama lama akan terkonstruksi seperti yang dikehendaki. Ketiga, tidak terlalu peduli dengan akurasi dan etika. Kerap mengabaikan keterhubungan pernyataan yang dilontarkan dengan realita sesungguhnya. Keempat, seringkali tidak konsisten antara narasi di satu kesempatan dengan kesempatan berbeda.









