Binaiya memang bukan untuk pemula. Medannya terkenal ekstrem. Namun perjalanan menuju puncak tidak hanya tentang fisik. Sepanjang rute, pendaki bersinggungan dengan keragaman budaya salah satu suku awal Pulau Seram, yang hingga kini menjaga hutan dan menetap di kawasan pegunungan. Belum lagi keberadaan Taman Nasional Manusela yang terkenal dengan satwa endemiknya.
Apakah perjalanan wisata sudah tuntas? Belum pak Bupati. Kita belum menyentuh sejarah. Mari bergerak sedikit lebih jauh ke Banda. Kepulauan yang dahulu rela ditukar Belanda dengan Manhattan di Amerika karena kekayaan rempahnya. Banda menyimpan sejarah kelam sekaligus panorama surgawi. Gunung Api Banda, pembantaian masa lalu, terumbu karang, pantai, hingga budaya lokal yang masih sangat kuat. Di sinilah Bung Hatta dan Syahrir pernah diasingkan. Tak heran, keindahannya membuat Syahrir pernah berkata, “Jangan mati sebelum ke Banda.” Kata-kata itu bukan pujian kosong, Banda memang setenar itu.
Pak Bupati tahu?. Berbicara budaya Maluku Tengah tidak akan cukup ditampung satu atau dua lembar kertas. Di sini berdiri masjid tertua di Maluku, gereja tertua di Maluku, serta beragam benteng peninggalan Belanda. Pagelaran budaya pun begitu kaya. Cakalele dan tari-tarian di Desa Pelauw, pukul manyapu di Morela, Abdau di Tulehu, dan banyak lainnya. Jika ingin merasakan denyut budaya secara utuh, mungkin bapa Bupati perlu singgah dan bermalam di Desa Pelauw. Perempuan-perempuannya anggun berkebaya, laki-laki gagah dengan pakaian putih dan laatale di kepala semuanya berpadu dengan rumah soa yang masih kokoh berdiri, menjadi saksi bisu perjalanan sebuah peradaban.









