Padahal keduanya dapat berbuat lebih baik. Saiful cukup mengatakan: inilah metodologi kami; bongkar, uji, replikasi, dan buktikan jika salah. SMRC bahkan dapat membangun firewall kelembagaan antara pandangan pendirinya dan produksi data. Presentasi survei Juli pun sudah dilakukan Deni Irvani, bukan Saiful sendiri.
Prabowo juga dapat mengatakan: saya tidak setuju dengan Saiful, tapi pemerintah akan memeriksa mengapa kepuasan turun 30,1 poin. Apalagi survei yang sama mencatat hanya 13,5 persen publik menilai kondisi politik baik atau sangat baik, dan 26,4 persen menilai penegakan hukum baik atau sangat baik.
Survei bahkan dapat menjadi hadiah bagi pemerintah. Ia memberitahu sebelum pemilu memberitahu. Seperti alarm asap: bunyinya menjengkelkan, tapi jauh lebih murah dari menunggu rumah terbakar. Bandingkan temuan SMRC dengan lembaga survei lain, data BPS, daya beli, pengangguran, konsumsi rumah tangga dan kepercayaan konsumen.
Kalau SMRC keliru, penelitian lain akan menunjukkannya. Kalau ternyata searah, yang perlu diperbaiki bukan alarmnya. Demokrasi memang membutuhkan dua kedewasaan sekaligus. Pengkritik harus menjaga kredibilitas kritiknya. Kekuasaan harus mampu menerima kritik tanpa menganggapnya pengkhianatan.









