Isu Anak: Dentuman Blues yang Terlalu Lama Kita Abaikan

oleh -20 views

Oleh: Rofiko Rahayu Kabalmay, Pegiat Literasi dan Pemerhati Perempuan dan Anak, Kota Tual

“Isu anak itu serupa musik blues. Teriakannya memang tidak segarang rock atau heavy metal, tetapi dentumannya menghujam jauh ke ulu hati.”

Kalimat itu pernah saya tulis sebagai sebuah keterangan foto. Saat itu saya menganggapnya sekadar metafora. Baru pada Minggu pagi, 26 Juli 2026, di pelataran Masjid Agung Al-Hurriyah ’45 Kota Tual, saya benar-benar memahami makna yang dikandungnya.

Pagi itu, sekitar 45 anak duduk melingkar dalam peringatan Hari Anak Nasional ke-42 bertema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tidak ada panggung megah. Tidak ada pidato yang menggelegar. Tidak ada seremoni yang berusaha memukau kamera.

Yang ada hanyalah anak-anak.

Baca Juga  DPRD Maluku Minta Pemprov Prioritaskan Pembayaran TPP ASN Setelah Dana Transfer Cair

Sebagian berlari kecil sebelum acara dimulai. Sebagian lain, tanpa diminta, mengumpulkan teman-temannya ketika pembawa acara memanggil. Lalu, saat sesi Membaca Buku Serentak dimulai, suasana berubah. Keriuhan perlahan menghilang. Yang terdengar hanya bunyi halaman buku yang dibalik pelan, suara anak-anak yang mengeja dengan terbata, dan sesekali tawa kecil ketika mereka menemukan kata baru.

Di sanalah saya mendengar blues itu.

Musik blues tidak lahir dari gegap gempita. Ia lahir dari luka, kehilangan, harapan, dan daya tahan manusia. Nadanya pelan, bahkan nyaris lirih. Namun justru karena kesederhanaannya, ia mampu menembus ruang yang tidak dapat dijangkau oleh suara yang paling keras sekalipun.

No More Posts Available.

No more pages to load.