Oleh: Ahmad Humam Hamid, Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Di tengah riuh demonstrasi yang mengguncang Jakarta dan kota-kota besar Indonesia akhir Agustus 2025, nama A.M. Hendropriyono kembali mencuat dengan tuduhan bombastisnya.
Ia menyebutkan demo-demo ini bukan sekadar ekspresi rakyat yang jengah, melainkan hasil rekayasa “pihak asing” yang bersekongkol dengan “kaki tangan” lokal untuk mengacaukan negara.
Dalam pandangannya, kerusuhan ini adalah upaya terorganisir dari aktor-aktor non-negara berpengaruh yang ingin menjajah Indonesia secara ekonomi dan ideologis, sebuah invasi baru yang diselubungi di balik layar.
Tuduhan ini bukan sekadar alarm keamanan, tapi sebuah narasi yang ingin membingkai gelombang protes sebagai ancaman eksistensial yang harus ditumpas.
Namun, pertanyaannya, seberapa akurat tuduhan ini? Apakah benar demonstrasi yang lahir dari keresahan rakyat urban yang meluas ini hanyalah boneka dalam skenario konspirasi asing?
Ataukah justru kita sedang menyaksikan fenomena sosial yang lebih kompleks, yang tidak bisa lagi dipahami lewat pola lama?
Masuklah ke ranah filsafat kontemporer, di mana Gilles Deleuze dan Félix Guattari menawarkan sebuah paradigma yang melawan pemikiran hierarkis dan sentralistik ala Hendropriyono.









