Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Dunia pernah sederhana. Setidaknya tampak sederhana. Ada Timur, ada Barat. Ada Washington, ada Moskow.
Bahkan setelah Perang Dingin usai, dunia masih mencoba berpura-pura rapi: satu kutub dominan, satu sistem keuangan, satu bahasa kekuasaan. Negara-negara lain tinggal memilih—ikut atau tersisih.
Tapi dunia 2026 tidak lagi mengenal kesederhanaan itu. Ia berubah menjadi pasar yang riuh — tempat semua orang bertransaksi, bernegosiasi, dan yang paling penting: menarik keuntungan.
Dan di tengah keramaian itu, Indonesia muncul bukan sebagai pembeli pasif, tapi sebagai pedagang yang tahu kapan harus menawar, kapan harus menahan, dan kapan harus pergi.
Inilah yang oleh banyak pemikir hubungan internasional disebut sebagai pergeseran dari alignment menuju strategic autonomy, bahkan lebih jauh lagi: multi-alignment, atau yang oleh sebagian analis disebut omni-enmeshment.
Samir Saran dari Observer Research Foundation menyebutnya sebagai era ketika negara tidak lagi terikat pada satu poros, melainkan membangun jejaring kepentingan ke segala arah.
Dunia tidak lagi seperti rel kereta yang memaksa kita memilih jalur. Ia lebih mirip persimpangan besar tanpa lampu lalu lintas — siapa cepat, dia dapat. Dan Indonesia adalah contoh hidup dari perubahan ini.










