“Alhamdulillah,” kata Sneako. Kemudian banyak potongan video ini beredar di berbagai platform media, yang menyebut Prof. Jiang telah masuk Islam. Tapi, ada juga yang meragukannya.
Begitulah sebuah peristiwa besar kadang muncul tanpa tata upacara yang megah. Ia menyelinap di antara langkah kaki, percakapan spontan, dan suara kendaraan kota besar New York, Amerika Serikat. Ia cukup direkam, mungkin dengan kamera biasa, lalu dunia tahu.
Tetapi justru karena itulah, kita perlu membacanya dengan kepala dingin. Kita tak perlu tergesa-gesa menjadikannya tontonan spektakuler yang beredar begitu luas di internet, tetapi juga tidak buru-buru mengecilkan maknanya.
-000-
Jiang Xueqin bukan nama baru dalam dunia pendidikan dan analisis sejarah. Ia lahir di Guangdong, Tiongkok, pada 1976, kemudian keluarganya bermigrasi ke Kanada. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana sastra Inggris di Yale University pada 1999.
Setelah itu, ia kembali ke negara kelahirannya. Ia berkecimpung dalam dunia pendidikan di Tiongkok, antara lain melalui program sekolah eksperimental dan pembaruan pendidikan.
Pada 2014, ia menerbitkan Creative China, buku yang mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan hafalan, ujian, dan kepatuhan mekanis. Menurutnya, sekolah harus melahirkan manusia kreatif yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar mesin penghasil jawaban benar.









