“Kondisi ini menuntut keterlibatan aktif pemuda dalam pembangunan. Di sinilah Karang Taruna harus hadir sebagai garda terdepan,” ujarnya.
Dari Organisasi Seremoni ke Organisasi Solusi
Halimun menekankan bahwa Karang Taruna tidak boleh berhenti sebagai organisasi seremonial, tetapi harus tampil sebagai organisasi yang menawarkan solusi nyata.
“Kita tidak boleh hanya menjadi organisasi simbolik. Karang Taruna harus menjadi organisasi solusi, bukan puas pada seremoni, tetapi bergerak pada kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Melalui Temu Karya ini, ia berharap lahir beberapa agenda strategis, di antaranya penguatan konsolidasi organisasi hingga tingkat desa dan kelurahan, serta penataan struktur yang tertib dan aktif secara administrasi.
“Kaderisasi hanya bisa berjalan jika Karang Taruna solid dari bawah,” jelas Halimun.
Selain itu, program Karang Taruna ke depan harus berbasis pada kebutuhan riil masyarakat.
“Program harus fokus pada pemberdayaan ekonomi pemuda, penguatan UMKM, pemanfaatan potensi lokal di bidang pertanian, perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, serta peran pemuda dalam kehidupan sosial,” tambahnya.
Mitra Strategis Pemerintah Daerah
Halimun juga menegaskan pentingnya sinkronisasi gerakan Karang Taruna dengan arah pembangunan daerah. Menurutnya, Karang Taruna harus ditempatkan sebagai mitra strategis pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Maluku.











