Termakan Harapan Palsu

oleh -62 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Ketika berselancar mencari tulisan dan artikel mengenai Jambi di masa lalu, tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah buku yang ditulis oleh James Michener, salah seorang penulis yang sangat kusukai. Dan rupanya, ia menulis mengenai Jambi! Tampaknya, salah seorang tokoh utamanya adalah seorang lelaki bule bernama Gibson. Lelaki ini menulis surat kepada Sultan Jambi, menawarkan persenjataan untuk mempertahankan diri melawan Belanda.

Wow. Musti kucari. Musti kubaca.

Di Amazon, ketemu buku itu. Dalam ‘blurb’ (cuap-cuap penjualan), dinyatakan bahwa dalam buku Rascals in Paradise, James Michener mengumpulkan cerita-cerita petualangan non-fiksi yang settingnya di daerah-daerah paling mempesona di dunia. Di dalam buku yang ditulisnya bersama A. Grove Day, Michener menayangkan portret 10 orang, lelaki dan perempuan, yang boleh dikatakan merupakan ‘rascals’–brandal. Termasuk di antaranya William Bligh yang dikenal sebagai kapten kapal Bounty. Latar belakang kesepuluh brandal itu beragam. Ada yang memang sudah bercita-cita menjadi perompak sejak awal, tetapi ada juga yang merupakan keturunan bangsawan bule. Nah, salah satu di antaranya adalah Gibson, yang membuatku tertarik pada buku itu.

Baca Juga  Tim SAR Cari Dua Nelayan yang Hilang Saat Melaut di Pulau Buru

Kulihat di Amazon, buku yang hardcover dijual seharga €10.41 dan yang softcover harganya €7.68, ditambah ongkos kirim. Aku mikir-mikir. Beli ga? Beli ga? Belumlah sempat aku menyerah pada keserakahanku memiliki dan membaca buku Michener, ada pesan masuk di inboks fb.

Link Banner

Seorang Sobat memiliki pdf-nya! Maukah? Ia bertanya begitu. Tanpa menunggu jawab, ia langsung mengirimkan empat halaman dari buku itu. Empat halaman yang bercerita mengenai Gibson. 🙂

Wah. Bahagia tiada tara! Sudah banyak orang yang tertarik pada cerita itu.

Mau tau ceritanya? Jadi, begini. Gibson sudah lama mengimpikan untuk datang ke Pulau Sumatra yang eksotis. Setelah lama berlayar di kapalnya, ia tiba di pulau itu. Entah apa saja petualangannya di sana. Suatu saat, ia mendengar kabar bahwa pamannya di Singapura meninggal dunia dan mewariskan hartanya kepadanya. Niat untuk berangkat ke Singapura terpaksa dibatalkannya karena Belanda tidak memberikan izin berlayar untuk kapalnya.

Ia terpaksa tinggal di tempat dengan semangat ’45 (padahal ia hidup di tahun 1850an!) untuk membebaskan Sumatra dari cengkeraman Belanda. Ia berlabuh di Bangka (yang sudah dekat sekali dengan Singapura tentunya). Naaaah, pada waktu itu, Pulau Bangka rupanya merupakan sarang intrik-intrik Belanda dan penuh dengan mata-mata atawa spion.

Baca Juga  Cek 6 Tanda untuk Memprediksi Tingkat Keparahan Pasien Covid-19

Kapal ‘Flirt’ milik Gibson menarik perhatian petinggi Belanda di sana. Apakah meneer mau membeli lada? Timah? Cengkeh? Kayu? Arak? Kopi? Sarang burung? Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Semua pertanyaan itu dijawab dengan kata ‘tidak’ oleh Gibson. Lho, mau apa orang Inggris ini? Mungkin petinggi Belanda itu berpikir demikian. Berhari-hari Gibson diinterogasi. Lelaki itu menunjuk ke pohon pisang, rusa yang sedang bermain di halaman petinggi itu dan burung berbulu aneka warna di sangkar, setangkai melati yang harum mewangi: “Untuk menikmati keindahan inilah aku datang ke sini,” katanya.

Gombal. Pikir si Petinggi Belanda. Tetapi, akhirnya mereka menyerah. Mereka menganggap Gibson sebagai laki-laki kaya yang kebanyakan uang. Ia dibiarkan pergi. Seseorang mengajaknya ke Palembang dan ia mendengar cerita tentang James Brooke yang menjadi Raja Putih di Serawak.

Wah, aku juga bisa seperti itu pikirnya. Aku bisa menjadi raja putih di suatu tempat di Sumatra, pikirnya. Barangkali bisa di Jambi, pikirnya. Tetapi untuk dapat menjadi raja putih seperti Brooke, ia harus mengenyahkan orang Belanda. Naaaah, …

Baca Juga  Usman Sidik Pastikan Menang 90 Persen di 32 Desa Makayoa

Gibson lantas menulis surat kepada Sultan Jambi. Ia menawarkan persenjataan kepada Sultan agar dapat memerangi dan mempertahankan diri melawan Belanda. Supaya Sultan tidak repot, ia menyewa penerjemah untuk mengalihbahasakan suratnya ke dalam bahasa Melayu. Pintar betul.

Malang baginya, penerjemah itu, seorang lelaki Melayu, ternyata merupakan mata-mata Belanda! Walhasil, Gibson ditangkap dan ditahan di penjara Weltevreden di Batavia. … Ceritanya masih lumayan panjang. Ujung-ujungnya, Gibson menceritakan pengalamannya dipenjara enam belas bulan oleh Belanda dalam sebuah buku (The Prison of Weltevreden).

Lalu, bagaimana Jambi, Sultan Jambi dan persenjataan untuk melawan Belanda? Tak ada ceritanya lagi. Surat Gibson tak pernah sampai ke tangan Sultan Jambi! Setelah diterjemahkan oleh si Mata-mata, surat itu dibawa oleh seorang utusan Gibson yang langsung ditangkap oleh Belanda. Gibson pun ditangkap! Dan ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di Sumatra, Pulau Perca.

Aku menarik nafas panjang. Ternyata, cerita mengenai Jambi yang sudah membuatku bersemangat hari ini hanyalah sejumput harapan palsu belaka! (***)