Sepagi Ini Mengenangmu
Di halaman sederhana ini aku kembali memulai hidup sebagai yang mati. Menyapu sembilu yang berguguran jatuh di atas dipan keresahan. Angin-angin berhembus melewati cuping telinga. Bisik lirihnya pada helai rambut yang tertiup; “sudahkah kita berjalan memetik cerita dihari-hari yang akan haru?”
Dan jauh…
Jauh sebelum matahari memantulkan bayang-bayang kita di tembok putih, cahaya telah lama padam. Menggulita seumpama getir yang kian meraba dalam gelap hingga perlahan terlelap jua.
Di halaman penuh luka ini, aku kembali tergerus kata yang telah patah. Bukan apa-apa jika keadaan serisau ini. Sebab memang benar katamu; hidup ini tak lebih dari sekadar air mata. Suka duka adalah ritme yang mengisi ruang-ruang paling hampa dalam sejarah kata-kata menjadi puisi pada kedua mata yang terlanjur basah.
Barangkali kita tak sempat tua ketika masalah datang bagai ombak yang menggulung anak-anak penyu; terbawa jauh dari kesejukan bibir pantai ke dalam biru laut yang temaram.
Atau barangkali kita ini hanya satu bentuk prosa yang ditata oleh pelukan-pelukan penuh pilu. Jika benar demikian, maka demikianlah gerimis menyudahi bait-bait penuh lara ini.
2020
=========
Menjaga Titah Tuhan
Kekasih, kita harus terus terjaga
Dari kantuk yang membawa bencana di hutan-hutan adat
Dari lelap yang membinasakan perut laut
Dari debar-debar lalai yang membuat kalap




