Tiga Puisi Yanni Tuanaya

oleh -44 views
Link Banner

Sepagi Ini Mengenangmu

Di halaman sederhana ini aku kembali memulai hidup sebagai yang mati. Menyapu sembilu yang berguguran jatuh di atas dipan keresahan. Angin-angin berhembus melewati cuping telinga. Bisik lirihnya pada helai rambut yang tertiup; “sudahkah kita berjalan memetik cerita dihari-hari yang akan haru?”

Dan jauh…
Jauh sebelum matahari memantulkan bayang-bayang kita di tembok putih, cahaya telah lama padam. Menggulita seumpama getir yang kian meraba dalam gelap hingga perlahan terlelap jua.

Di halaman penuh luka ini, aku kembali tergerus kata yang telah patah. Bukan apa-apa jika keadaan serisau ini. Sebab memang benar katamu; hidup ini tak lebih dari sekadar air mata. Suka duka adalah ritme yang mengisi ruang-ruang paling hampa dalam sejarah kata-kata menjadi puisi pada kedua mata yang terlanjur basah.

Baca Juga  Curah Hujan Tinggi BPBD Minta Warga Waspada Terhadap Bencana

Barangkali kita tak sempat tua ketika masalah datang bagai ombak yang menggulung anak-anak penyu; terbawa jauh dari kesejukan bibir pantai ke dalam biru laut yang temaram.
Atau barangkali kita ini hanya satu bentuk prosa yang ditata oleh pelukan-pelukan penuh pilu. Jika benar demikian, maka demikianlah gerimis menyudahi bait-bait penuh lara ini.

2020

=========

Menjaga Titah Tuhan

Kekasih, kita harus terus terjaga
Dari kantuk yang membawa bencana di hutan-hutan adat
Dari lelap yang membinasakan perut laut
Dari debar-debar lalai yang membuat kalap

Sisipkan lagi kafein pada malam di cangkir kopi
Genggam tiap kelopak mata pada diskusi yang bukan polusi
Peluk buku-buku di atas meja yang dingin
Sebab tidur dan dingin hanya bagi orang mati

Baca Juga  Kapsul waktu 300 tahun ditemukan dalam patung Yesus

Kekasih, kita harus menjaga
Semua titah Tuhan yang liar dan familiar
Entah itu di tubuh batu bata
Dengan gemuruh amuk yang terbata-bata
Pastinya kita butuh tabah

Bukan sesumbar yang hanya kabar-kabar
Tapi untuk selembar perawan di tubuh adat
Bukan hanya tak gentar yang menggelegar
Tapi untuk merdeka di atas altar ayat-ayat adat

2020

======

Seperti Tahun-tahun Lalu

Hari ini kamu mengirimiku satu gambar senja yang pipinya sedang merah. Lengkap dengan laut serta siluet jembatan di dekat bibir pantai. Hatiku begitu senang menerimanya. Namun lama-lama ia menjadi khawatir. Sebab senja dan laut adalah suka dan sukar. Mungkin kamu lupa; gadis kecil yang sering menikmatinya di dekat mercusuar itu sudah terhantam ombak.

Seperti tahun-tahun lalu, darah mengaliri sabana perasaanku. Desirnya melempar rindu yang tombak di ujung-ujung penantian. Dari malam ke malam–semakin larut, tak pernah surut.

Baca Juga  Inspektorat Kepulauan Sula Periksa Dana Desa Capalulu

Ini pertanda atau hanya prasangka? Sebab tahun-tahun lalu, aku pernah memeluk malam, mencintai gelapnya yang kelam. Meski tenang, tapi ketika pagi datang, ia berlalu begitu saja. Semuanya lenggang pergi, tapi tidak dengan cintaku.

hingga pagi datang, telingaku membaca pesan yang disampaikan angin lewat pentilasi jendela kamar; bukan hanya hari ini kita menjadi rindu sejauh satu windu. Tapi nanti akan menjadi satu sendu.

Namun jika benar, bisakah sekali lagi kita bertukar kecup di bibir pantai dekat api unggun?
Bisakah kamu membelai lagi kepalaku?
Bisakah kamu memeluk lagi bahuku?

2020

======