Porostimur.com, Washington — Industri perminyakan Venezuela kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Pasca-penangkapan tersebut, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pengelolaan Venezuela sekaligus memanfaatkan cadangan minyak raksasa negara itu.
Keputusan kontroversial ini memicu reaksi dan pertanyaan global mengenai masa depan energi dunia, sekaligus memperlihatkan ambisi Washington untuk menancapkan pengaruh langsung di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Klaim Minyak AS “Dicuri” Venezuela
Dikutip dari Associated Press (AP), Kamis (8/1/2026), Trump berdalih bahwa langkah agresif ini diambil karena Venezuela selama ini disebut telah “mencuri” minyak milik Amerika Serikat. Klaim tersebut merujuk pada kebijakan nasionalisasi aset asing yang dilakukan mendiang Presiden Hugo Chavez beberapa dekade lalu.
Kebijakan Chavez kala itu menasionalisasi ratusan aset milik perusahaan asing, termasuk perusahaan minyak asal AS yang telah menanamkan investasi besar di Venezuela. Trump menyebut, kebijakan tersebut sebagai perampasan hak ekonomi Amerika.
Atas dasar itu, Trump mengusulkan agar perusahaan-perusahaan minyak AS kembali masuk ke Venezuela guna membangun ulang industri perminyakan negara tersebut yang saat ini lumpuh akibat kerusakan infrastruktur dan sanksi internasional berkepanjangan.









