“Tanpa stabilitas politik dasar, perusahaan-perusahaan tidak akan mengambil risiko, terutama di negara yang infrastrukturnya hancur dan rawan konflik,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah kondisi infrastruktur yang rusak parah. Amy Myers Jaffe dari New York University (NYU) menyebut kerusakan serius terjadi pada peralatan produksi, kebocoran pipa, serta krisis energi internal akibat kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang kerap terjadi.
Masalah brain drain atau eksodus tenaga ahli teknis juga memperparah situasi. Para analis memperkirakan Venezuela membutuhkan investasi sedikitnya 54 miliar dolar AS selama 15 tahun hanya untuk menjaga produksi minyak tetap stabil.
Dengan kondisi tersebut, pemulihan industri perminyakan Venezuela dinilai tidak akan terjadi dalam waktu singkat, meski negara itu menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia.rjadi secara instan. (red/beritasatu)
Simak berita dan artikel terbaru di: WhatsApp Channel porostimur.com









