Atau ketika jalan atau jembatan dipandang angker dan dihuni mahluk halus, maka harus ada tumbal agar roh-roh jahat disana tidak menganggu orang banyak pengguna jalan atau jembatan itu.
Persis seperti itulah yang sekarang berulang. Penduduk kampung-kampung tua di Rempang, para nelayan yang hidupnya sederhana dan mengandalkan hasil laut, harus pergi dari tanahnya demi ‘eco-city.’ Untuk membangun sesuatu yang ramah lingkungan.
Padahal, hidup mereka selama ini sudah ramah lingkungan. Mereka hidup dari alam, dan mereka harus memelihara keseimbangan alam jika ingin terus bertahan hidup. Sungguh ironis, mereka harus pindah dan tawarannya adalah perumahan seperti yang Anda lihat di gambar. Mereka harus hidup dengan rumah seragam dengan tanah 500 meter per segi.
Untuk orang-orang urban, mereka barangkali akan bersyukur kalau mendapat rumah gedung dengan luasan 500m2. Namun bagaimana dengan para nelayan ini? Mereka harus berpisah dari laut. Mereka harus bercerai dari alam yang selama ini memberi mereka penghidupan. Mereka harus tercabut dari kebudayaan maritim-nya.
Apakah ini adil? Itu selalu persoalan yang menjadi pertanyaan. Dipandang dari sisi uang, mungkin akan dilihat menguntungkan. Sebelum pindah ke rumah itu, penduduk akan diberi 1,2 juta per orang per bulan. Itu jauh lebih besar dari penghasilan mereka sebagai nelayan (tapi sekarang mereka harus beli ikan!).








