Keserakahan. Itulah satu-satunya yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di Rempang. Investor tidak sedikit pun mau berbagi dengan penduduk yang sudah mendiami wilayah ini bergenerasi-generasi. Apa sih susahnya menyisihkan barang 1,000 hektar untuk mereka dan mengintegrasikan ‘eco-life’ yang selama ini mereka miliki dengan eco-city yang hendak dibangun?
Apakah ini akan merugikan investor itu? Sangat mungkin tidak. Bahkan mungkin masyarakat ini akan menguntungkan. Mereka akan memperkuat image eco pada kota yang akan dibangun. Coba bandingkan dengan perumahan untuk penduduk yang tergusur itu? Apanya yang eco, yang hijau, yang sustainable dari perumahan seragam model barak serdadu macam itu?
Hampir lima puluh tahun lalu kita belajar tentang ‘tumbal’ dari pembangunan. Kita tidak pernah belajar. Dan, kita tidak mau belajar.
Yang kita tahu adalah serakah itu penting. Kekuasaan itu nomor satu. Kekuatan itu berjaya. Dan, kita terima para nelayan sederhana itu, yang hanya ingin hidup sesuai dengan tradisi dan budayanya, menjadi tumbal! Demi industri berbalut eco. Dan, kita berwisata ke sana juga. Sama seperti ke proyek IKN yang mangkrak itu.
Indonesia ini hanya milik segelintir yang maha kuasa dan maha kaya. Sisanya? Bersiaplah menjadi tumbal! Ayo, bayar pajak! (*)










