Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Kalau Anda lama di tanah pedalaman Jawa, Anda mungkin akan pernah mendengar ungkapan: Solo umuk, Jogja Gembluk. Maksudnya itu, orang Solo senang “umuk,” dan orang Jogja biasanya ‘ngGembluk.”
Sungguh sulit menerjemahkannya secara tepat. Umuk itu kira-kira berati suka memamerkan kehebatan, kekayaan, kepintaran, dan lain sebagainya. Dalam makna positif, bisa dikatakan bahwa umuk itu juga berani mengambil resiko. “Sing penting umuk sik ..” yang penting pamer dulu. Perkara berhasil, itu soal kemudian.
Ngglembuk itu artinya kira-kira (ya kira-kira, saya juga belajar Jawa setelah dewasa karena saya bukan orang Jawa!), adalah pintar merendah, mengambil hati, dan menyembunyikan perasaan. Saya menafsirkannya sebagai pasif-agresif ala Jawa. Persis ketika ia membungkuk, ia memperlihatkan kerisnya yang terselip di belakang. Itu hanya penafsiran saya.
Sejak kemarin di lini masa saya tertayang video pidato mantan presiden RI ke-7 Jokowi. Dia bicara tentang perang. Dia bilang bahwa ketika perang mulai, dia telpon “Kakaknya” yang menjadi presiden Uni Emirat Arab (UEA) dan tanya kapan perang selesai. Dia menyebut nama “kakak”-nya itu “Yang Mulia MBS.”









