Eropa yang Berkata “Tidak”: Retakan Senyap di Tubuh NATO

oleh -362 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ketika Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa perang bukan solusi jangka panjang, ketika Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, memilih de-eskalasi sebagai jalan rasional, dan ketika pemerintah Austria bahkan menutup wilayah udaranya bagi penerbangan militer Amerika—maka yang sedang kita saksikan bukan sekadar sikap politik. Ini adalah gejala.

Gejala dari sesuatu yang lama terpendam.

Selama puluhan tahun, NATO berdiri sebagai simbol solidaritas Barat. Ia bukan sekadar aliansi militer, melainkan janji—bahwa serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua. Tapi janji itu, hari ini, mulai dipertanyakan bukan oleh musuh, melainkan oleh mereka yang pernah mengucapkannya bersama.

Salah satu titik baliknya—tak bisa disangkal—adalah gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baca Juga  Formapas Malut Desak ESDM dan APH Usut Dugaan Aktivitas Tambang PT HSM

Retorika yang merendahkan sekutu, ancaman tarif sepihak, hingga gagasan mencaplok Greenland—wilayah milik Denmark—bukan sekadar kebijakan.
Itu adalah pesan. Dan Eropa menangkap pesan itu dengan sangat jelas:
bahwa dalam hubungan ini, penghormatan tidak lagi dijamin.

Di titik inilah, suara Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menjadi penting.

Dalam salah satu pernyataannya yang keras—dan relatif jarang keluar dari tradisi diplomasi Jerman yang berhati-hati—ia menyinggung bahwa tatanan dunia hari ini adalah hasil dari konsensus pasca Perang Dunia II. Sebuah tatanan yang dibangun di atas prinsip bahwa batas negara tidak boleh diubah dengan kekuatan, dan kedaulatan adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan secara sepihak.

No More Posts Available.

No more pages to load.