With You I Learned

oleh -125 views

“Beli di mana?” tanyanya tiba-tiba. “Apa yang di mana?” Aku tak lagi bisa membaca dengan khidmat. Kututup buku dan mencoba melihat lebih jelas perempuan di hadapanku ini. Rambutnya diikat dengan gaya messy bun dan ia membiarkan anak rambutnya terjatuh begitu saja. Wangi bunga segar terpancar dari badannya.

“Novel itu kan sudah jarang yang jual,” ucapnya, lantas menyesap minuman yang dibawanya. Di gelas plastiknya tertulis vanilla latte. Kutebak dia bukan penikmat kopi pahit.

“Ah, ya. Ini koleksi lama milik ayahku. Kau suka juga?” tanyaku sambil mendorong buku itu ke hadapannya. Ia menatap yang kusodorkan, “Aku suka juga. Sebetulnya aku baru dua membaca dua karyanya dan terkesima, jatuh cinta, dengan apa yang ia ceritakan. Kok bisa, ya?”

Baca Juga  PA Morotai Sabet Lima Penghargaan Kinerja Triwulan I 2026

“Kau tahu,” sambungnya, ”Aku tak tahu dengan yang lain, tapi tahu tidak kesamaan Are You Afraid of the Dark dan Windmills of the Gods? Dia bisa menceritakan banyak hal terperinci dengan sudut pandang dan insting wanita. Gila.”

Aku tak tanya siapa namanya karena aku sudah tahu dari gelas plastiknya itu. Ia bercerita bagaimana sulitnya ia mencari karya Sheldon daring maupun luring. Belum lagi ceritanya yang mencoba menjelajahi toko-toko buku bekas dengan harapan bisa membawa pulang bacaan baru. Nihil, katanya. Yang dia dapat cuma bola-bola ubi di pinggir jalan yang kulitnya tipis hingga dia bisa melahapnya dalam porsi banyak. Entah apa hubungannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.