Louhenapessy : Tertib Ukur, Wujudkan Warga Taat Aturan

oleh -34 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Disosilisasikannya kegiatan tertib ukur sesuai Undang-Undang Kemeterologian, masyarakat di Kota Ambon diharapkan mampu menjadi warga yang tertib ukur bahkan menjadi taat aturan.

Hal ini ditegaskan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy,SH, kepada wartawan, usai menghadiri sosialisasi Undang-Undang Kemeterologian yang digelar Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, di Ambon, Kamis (29/8).

Tak lupa, diapresiasinya niat baik Kementerian Perdagangan RI yang menggelar kegiatan dimaksud di Kota Ambon.

”Atas nama Pemerintah Kota dan masyarakat Ambon, saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perdagangan, khususnya Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan RI yang sudah menunjuk Kota Ambon menjadi tuan rumah. Bagaimana efeknya? Tanyakan pada supir, hotel, mereka yang berada pada kuliner yang berdampak pada kegiatan ini. Tapi sisi positif yang saya lihat kegiatan ini mengedukasi masyarakat untuk hidup lebih tertib untuk betul-betul berada taat aturan. Dengan tertib ukur, dan konsumen diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran berbangsa bernegara sebagai orang yang tertib dan taat kepada aturan. Parkir kalau mau pakai meteran, otomatis akan berdampak besar buat kita,” ujarnya.

Link Banner

Menurutnya, salah satu inovasi yang sesuai dengan tertib ukur adalah program Ambon City Of Music (AMO).

Baca Juga  Brimob Maluku Laksanakan Gelar Pasukan, Peralatan, Perlengkapan dan Kendaraan

Dimana, semenjak direalisasikannya program dimaksud sudah mampu menembus tangga ke-25 besar di tingkat nasional.

”Nama untuk kulinernya, papeda panas, rujak natsepa dll sesuai kearifan lokal daripada kita. Salah satu inovasi yang masuk sekarang di level nasional untuk 45 besar Indonesia yaitu Ambon City Of Music (AMO). Kita sekarang lagi bertarung untuk 25 besar Indonesia,” jelasnya.

Dijelaskannya, kegiatan parkir merupakan penerapan tertib ukur yang menjadi salah satu sumber pendapatan yang besar bagi Kota Ambon.

Dari kegiatan ini saja, akunya, Maluku dan Papu sudah menjadi barometer tertib ukur di Indonesia.

”Parkir sebenarnya adalah sumber pendapatan terbesar buat Ambon, cuma selama ini parkir masih terbilang manual. Untuk manual saja mengandung kontribusi sebesar 4 milyar rupiah. Kalau ditangani secara teknologi, saya yakin bisa lompatannya luar biasa. Dan masyarakat puas tidak ada neko-neko dan semua juga bisa menghargai haknya untuk itu,” tegasnya.

Baca Juga  Warga Ambon Digegerkan Penemuan Mayat di Pantai Losari

Selain itu, akunya, parkir juga masuk dalam konteks penerapan kota pintar atau smart city.

Untuk itu, timpalnya, pihaknya bersedia mengirimkan tenaga ahlinya untuk menerapkan pengalamannya ke daerah lainnya, jika diminta oleh daerah dimaksud.

Dengan adanya alih informasi seperti itu, tidak diopinikan bahwa tenaga hli dimaksud akan dimutasi ke daerah tertentu.

”Parkir termasuk konteks smart city, termasuk juga tertib ukur sebagai konteks smart city. Tertib ukur sudah masuk ke masyarakat bahkan satu-satunya di Papua dan Ambon jadi contoh. Sehingga, kalau ada kegiatan di kabupaten-kabupaten bisa menjadi contoh dan bila diperlukan mereka meminta bantuan kita dan akan kita kirim tenaga kita di sana. Tadi menurut dirjen semua tenaga kemetrologian berfungsi sesuai dengan peranannya. Tidak ada yang dimutasi kemana-mana, sekolah saya bayar mahal. Bagaimana mau kirim mereka lagi. Untuk menyapu jalan tertib ukur saja,” pungkasnya.