Porostimur.com – Ambon: Seperti yang kita ketahui, sunat adalah suatu praktik atau prosedur medis yang dianjurkan untuk setiap laki-laki. Namun, selain dipraktikkan pada kaum laki-laki, ternyata praktik sunat ini juga marak dilakukan pada kaum perempuan.
Dilansir dari laman Asosiasi Kesehatan Dunia atau WHO, praktik sunat perempuan atau dikenal juga dengan pemotongan/perlukaan genitalia perempuan (P2GP) atau female genital mutilation (FGM) adalah suatu praktik pengangkatan sebagian atau seluruhnya alat kelamin perempuan bagian luar, atau menyebabkan luka pada organ intim perempuan untuk alasan non-medis. FGM ini dipraktekkan di seluruh dunia dan telah memengaruhi lebih dari 200 juta perempuan maupun anak perempuan yang hidup saat ini.
P2GP ini melanggar hak anak yang dijamin berbagai konvensi dan UU Perlindungan Anak. Selain itu, FMG telah secara internasional diakui sebagai pelanggaran hak asasi perempuan. Meskipun demikian, sejumlah mitos dan kesalahpahaman tentang FGM tetap ada, yang menyebabkan praktik FMG ini nggak benar-benar hilang.
1. Alasan Kesehatan
Masalah kesehatan organ intim / freepik.com / rawpixels |
Mitos pertama yang tersebar di negara-negara di mana FGM lazim yang mendorong pelestarian tradisi ini adalah untuk alasan kesehatan perempuan itu sendiri. Konon, jika perempuan nggak melakukan sunat, klitorisnya akan tumbuh, organ intim akan berbau, dan bahkan nggak bisa mempunyai anak.









