Artinya: “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu)”
Melupakan mereka, berarti sama halnya dengan menutup pintu rezeki bagi keluarga. Bagaimana tidak, kita bisa berkeluarga seperti saat ini juga karena jasa-jasa kedua orang tua.
Sebagian kita mungkin menikah tanpa memiliki modal yang cukup, dan orang tualah yang menutupi kekurangan tersebut. Bahkan, setelah menikah pun kita masih dibantu oleh orang tua.
Meskipun orang tua tidak pernah meminta anaknya untuk mengembalikan semua itu, tapi ketika seorang anak berusaha berbakti kepada mereka dengan segala kebaikan yang ia bisa, maka akan ada balasan baiknya.
Dan jika sebaliknya, sang anak justru akan mengalami kesusahan hidup. Sebab, ketika orang tua tidak rida, maka Allah Swt pun tidak akan meridai apa yang dikerjakan.
3. Berkhianat pada Istri dan Anak
Bagi istri, suami merupakan wadah atau jalan rezeki. Artinya, rezeki istri dititipkan kepada suami untuk kemudian didistribusikan atau dibelanjakan untuk kepentingan keluarga. Dalam konteks ini, suami sebagai perantara untuk menyampaikan maksud tersebut.









