Lima, watak yang lemah. Kegoyahan watak merupakan akibat dari ciri manusia feodal juga. Hal tersebut pun ditemukan pada diri Jokowi. Ia dikenal keras kepala. Kalau sudah punya sudut pandang tertentu, Jokowi susah diubah. Kendati tidak masuk akal dan dikritik para pakar, Jokowi tetap membangun IKN, Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, dan proyek-proyek strategis lain yang sebagian mangkrak.
Ia juga tak peduli terhadap resistensi publik terhadap pencalonan Gibran sebagai wapres dengan memanipulasi konstitusi dan marah pada Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang tak bersedia mendukungnya menjadi presiden tiga periode atau memperpanjang pemerintahannya. Padahal, PDI-P-lah yang memungkinkannya menjadi walikota, gubernur, dan presiden dua periode.
Keenam, artistik. Indonesia mempunyai imajinasi artistik yang tinggi yang bisa disaksikan pada artefak-artefak yang masih ada, seperti candi-candi gigantik yang indah dan rumit, batik, gamelan, dll. Inilah satu-satunya ciri orang Indonesia yang tidak ada pada diri Jokowi. Apakah enam ciri orang Indonesia yang disampaikan Mochtar Lubis ini tidak ada pada diri Prabowo Subianto? Tidak juga.
Setidaknya Prabowo memiliki ciri nomor lima, yaitu watak yang lemah. Kendati menggusur orang-orang Jokowi dari pemerintahannya sebagai keniscayaan politik untuk menguatkan legitimasinya serta memuluskan upayanya membangun pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, Prabowo justru menjawabnya dengan menyanjung Jokowi setinggi langit.









