5. Memicu trauma yang belum tersembuhkan

Salah satu fakta tentang pernikahan ialah mampu memicu trauma terbesar yang dimiliki seseorang.
Kamu mungkin pernah mendengar bahwa seseorang yang masih pacaran mempunyai sikap yang jauh berbeda ketika ia telah menikah. Alasan terbesarnya karena hubungan pernikahan akan memicu trauma terbesar seseorang yang belum terselesaikan.
Jika seseorang punya luka pengabaian secara emosional oleh kedua orangtuanya, maka ia cenderung sulit membangun keintiman dengan pasangannya, sulit mengekspresikan kebutuhannya, hingga membuat pasangannya merasa kesepian.
6. Kemarahan dan rasa mudah tersinggung

Efek lainnya dari trauma dalam pernikahan adalah kemarahan dan perasaan mudah tersinggung.
Ketika kita mengalami trauma yang belum terselesaikan, otak dan sistem saraf cenderung mendorong kita untuk berada di dalam mode bertahan hidup dengan 4 mekanisme penyelamatan diri, di antaranya fight, flight, freeze, dan fawn mode.
Jika mekanisme penyelamatan diri yang muncul adalah fight mode atau mode bertarung, maka seseorang akan menunjukkan ledakan kemarahan dan rasa ketersinggungan yang tinggi. Hal inilah yang membuat seseorang rentan melakukan kekerasan di dalam rumah tangga.
7. Perilaku menghindar

Beberapa orang yang pernah mengalami trauma dalam hidupnya mungkin beradaptasi untuk menarik diri dari banyak hal, termasuk dari pasangan mereka sendiri. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa aman pada diri mereka.











