Akan tetapi, apabila hal ini terus berlanjut, akan bermanifestasi sebagai penghindaran percakapan mendalam dengan pasangan atau situasi yang memicu trauma.
Buruknya, hal ini dapat menyebabkan perasaan diabaikan oleh pasangan, hingga memicu keretakan dalam rumah tangga.
8. Masalah harga diri

Trauma dapat berdampak negatif pada harga diri seseorang, di mana trauma akan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri di dalam pernikahan, serta keyakinan mereka atas pandangan pasangannya.
Hal ini dapat disertai dengan keyakinan negatif tentang diri sendiri atau dunia luar.
Misalnya, seseorang yang mengalami trauma masa kecil mungkin percaya bahwa dirinya nggak pantas berada di dunia ini, atau bahwa dirinya sulit untuk dicintai.
Apakah benar begitu?
Jawabannya tentu saja tidak.
Sebab, meskipun trauma mungkin membuat seseorang berpikir tidak rasional, tapi trauma tetap memberi dampak secara fisik dan emosional yang nyata.
9. Peran yang nggak seimbang dalam hubungan pernikahan
Efek trauma dalam pernikahan yang terakhir adalah membuat ketidakseimbangan peran. Ini merujuk kepada dinamika kekuasaan dalam pernikahan, di mana salah satu pasangan mungkin berfungsi secara berlebihan, sementara pasangan lainnya nggak berfungsi sama sekali.
Sering kali, seseorang yang mengalami trauma mungkin adalah orang yang mengambil lebih banyak tanggung jawab, karena dia kesulitan memercayai pasangannya dalam berbagi beban dalam rumah tangga. Hal ini dapat mengakibatkan kelelahan dalam hubungan, rasa benci terhadap pasangan, dan hilangnya ketertarikan terhadap pasangan karena dia merasa seperti orangtuanya, bukan pasangannya.











