Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.
PARTAI Persatuan Pembangunan (PPP) adalah magma. Kondisinya selalu bak api di dalam sekam. Di luar kelihatan riak, di dalam terus bergejolak.
Entah mengapa, ketua umumnya juga kerap bermasalah. Tak terkecuali kini Suharso Monoarfa. Akhirnya PPP pun menjadi partai kelas bawah. Inilah fakta.
Hilang Pasca-2024
PPP kini terancam hilang dari peredaran. Kekhawatiran PPP hilang pasca-Pemilu 2024 nanti diutarakan mantan Ketua Umum PPP Hamzah Haz dalam Muktamar IX PPP tahun 2020 yang memilih Suharso Monoarfa sebagai ketua umum.
Hamzah Haz pula yang berhasil membawa PPP ke puncak kejayaannya, yakni pada Pemilu 1999 di mana partai ini berada di urutan ketiga perolehan suara setelah PDI Perjuangan dan Partai Golkar.
Setelah itu, perolehan suara PPP terus menurun dari pemilu ke pemilu. Pada pemilu terakhir (2019), PPP bahkan menjadi juru kunci alias di posisi buncit dari 9 parpol yang berhasil lolos ke Senayan. Tak heran jika Hamzah Haz wanti-wanti PPP bisa hilang usai Pemilu 2024.
Kondisi PPP memang seperti nasib Sisifus. Sisifus dikutuk karena mencuri rahasia para dewa. Sedangkan PPP “dikutuk” selain karena konflik internal yang berkepanjangan juga karena dua ketua umumnya, Suryadharma Ali dan M Romahurmuziy “mencuri” uang negara alias korupsi.








